Ibu Hamil

10588500_XL

Mengapa saat hamil?

Perempuan hamil jauh lebih rentan terhadap infeksi saluran kemih (ISK), termasuk cystitis, akibat sejumlah perubahan pada tubuh. Hormon progesteron yang meningkat saat hamil melemaskan otot-otot ureter yang menghubungkan ginjal dengan kandung kemih, sehingga urin mengalir lebih lambat. Seiring janin yang terus membesar, aliran urin pun makin melambat. Dengan demikian, bakteri punya waktu lebih banyak untuk berkembang biak sebelum dikeluarkan dari tubuh, didukung oleh sistem pembersihan alami tubuh yang tidak bekerja sebaik sebelum hamil.

Infeksi saluran kemih adalah infeksi bakteri yang paling awam terjadi selama kehamilan, dan bisa terjadi dengan atau tanpa menunjukkan gejala. Meski biasanya tak sampai terkena infeksi ginjal, pada perempuan hamil infeksi di saluran kemih bagian bawah (cystitis)  lebih berisiko berkembang ke bagian atas (pyelonephritis) , dibandingkan perempuan yang tidak hamil.

Infeksi saluran kemih menjadi berbahaya bagi ibu hamil karena bisa turut memengaruhi kesehatan si kecil, seperti kelahiran prematur atau bayi dengan berat badan rendah. Ini terjadi karena infeksi saluran kemih mengganggu janin, sehingga membuatnya lahir lebih awal.

 

Apa gejala infeksi saat kehamilan?

Infeksi saluran kemih/cystitis dapat terjadi tanpa menunjukkan gejala apapun. Oleh sebab itu, dokter seringkali mewajibkan pengecekan urin secara berkala sebagai langkah perawatan prakelahiran. Jika bakteri ditemukan pada urinsaat hamil, dokter akan menawarkan pengobatan yang cocok (misalnya dengan antibiotik) untuk mengatasi infeksi, meskipun tak ada gejala yang terlihat.

Beberapa gejala infeksi saluran kemih/cystitis yang sering muncul meliputi:

  1. Sensasi nyeri atau terbakar ketika berkemih
  2. Sering buang air kecil atau anyang-anyangan
  3. Rasa selalu ingin buang air kecil
  4. Kandung kemih terasa belum kosong sepenuhnya setelah berkemih
  5. Urin berwarna keruh
  6. Sakit punggung
  7. Adanya darah pada urin
  8. Rasa nyeri atau kram pada perut bagian bawah
  9. Demam atau suhu badan tinggi

 

Cek urine selama hamil

Selalu cek urin Anda sejak masa awal kehamilan. Bila ada bakteri pada urin, konsultasikan dengan dokter Anda dan lakukan pengobatan meskipun Anda tidak merasakan gejala apapun. Jika ditemukan adanya bakteri, Anda sebaiknya melakukan pengecekan secara rutin. Dokter akan meminta Anda untuk menggunakan uji strip kimia (dipstick) yang mudah dan cepat, serta sampel urin segar untuk dianalisis di laboratorium. Namun, uji strip kimia saja sudah cukup untuk mendiagnosis kehadiran infeksi saluran kemih/cystitis.

 

Pengobatan infeksi saluran kemih/cystitis ketika hamil

Seperti pada perempuan yang tidak hamil, pengobatan dengan antibiotik merupakan pilihan namun jika Anda hamil, disarankan untuk mengatasi infeksi saluran kemih/cystitis dengan antibiotik, biasanya untuk konsumsi jangka pendek selama tujuh hari. Umumnya, gejala akan mereda dalam beberapa hari setelah pengobatan, namun antibiotik mesti tetap dihabiskan. Jangan khawatir, sebab antibiotik untuk mengobati infeksi saluran kemih/cystitis pada perempuan hamil tak akan membahayakan janin. Jika gejala terus tampak atau bahkan semakin parah, bakteri mungkin telah  resisten terhadap antibiotik yang Anda konsumsi. Oleh karena itu, gantilah jenis antibiotik yang Anda konsumsi. Infeksi saluran kemih/cystitis  bisa diobati dengan antibiotik dengan dosis satu kali, misalnya yang mengandung fosfomycin trometamol sebagai bahan aktifnya. Selepas pengobatan, cek kembali sampel urin Anda untuk mengetahui apakah infeksi benar-benar berhasil disembuhkan.

Pada sejumlah kasus, obat antiradang seperti parasetamol atau ibuprofen mampu membantu mengurangi nyeri dan demam yang muncul. Minumlah banyak air untuk membersihkan saluran kemih, serta melarutkan bakteri di kandung kemih agar keluar dari tubuh.