Perempuan Menopause

med_CULS082549

Apa yang terjadi saat kadar estrogen berkurang?

Infeksi kemih dan organ reproduksi yang senantiasa kambuh dialami sebagian besar perempuan pascamenopause. Diperkirakan sebesar 10-15 persen perempuan di atas usia 60 tahun sering mengalami infeksi saluran kemih (ISK). Mengapa demikian?

Pasca menopause, perempuan mengalami perubahan hormon drastis yang tampak dalam beragam wujud, misalnya suasana hati yang tidak stabil, sampai rasa panas dalam tubuh (hot flushes). Organ reproduksi pun ikut berubah tanpa Anda sadari. Seiring menurunnya produksi hormon estrogen, bakteri flora pada organ reproduksi yang berfungsi melindunginya turut mengalami perubahan yang berperan di penyebab infeksi saluran kemih pada perempuan pasca menopause.Pasca menopause, pH area organ reproduksi  meningkat menjadi semakin basa. Bakteri lacobacilli baik sirna dari flora organ reproduksi, tergantikan oleh koloni bakteri dari usus, khususnya Escherichia coli. Koloni bakteri baru ini dicurigai sebagai pemicu kerentanan terhadap infeksi saluran kemih. Selain itu, dapat pula terjadi peradangan pada organ reproduksi, infeksi ragi, maupun infeksi bakteri organ reproduksi.

 

Gejala dan keluhan lain yang biasanya dialami pascamenopause adalah:

  1. Sering berkemih pada siang dan atau malam hari atau anyang-anyangan;
  2. Rasa tidak nyaman ketika berkemih;
  3. Mengompol;
  4. Kering di area kewanitaan, ketidaknyamanan, sensasi panas dan gatal;
  5. Lendir area intim;
  6. Rasa nyeri saat berhubungan intim

 

Pengobatan dan beberapa tips yang berguna

Pada perempuan menopause yang menderita infeksi saluran kemih, pengobatannya bertujuan:

  1. Mengurangi gejala menopause dan mengembalikan ekosistem normal organ reproduksi Dikarenakan infeksi kemih berkaitan dengan berkurangnya estrogen, maka penambahan hormon estrogen secara oral maupun organ reproduksil dapat dilakukan sebagai tindakan pencegahan.
  2. Menghilangkan patogen dengan antibiotik pada infeksi saluran kemih (cystitis), misalnya, dengan konsumsi antibiotik dengan dosis satu kali
  3. Menjaga kesehatan tubuh.

 

Infeksi organ reproduksi umumnya diobati dengan antibiotik.Namun, antibiotik juga turut menyapu bakteri baik lactobacilli yang sebenarnya berfungsi menangkal kehadiran bakteri jahat supaya tidak menempel di jaringan yang dapat menginfeksi dan mengiritasi .Oleh karena itu, selepas pengobatan dengan antibiotik, keseimbangan bakteri baik pada organ reproduksi mesti dikembalikan segera.

Bagi perempuan yang tengah memasuki fase menopause, kini banyak ginekolog yang merekomendasikan terapi penggantian estrogen. Menopause merupakan proses bertahap, maka perubahan jaringan organ reproduksi juga terjadi secara perlahan. Anda bisa memula terapi dengan krim (atau  tablet,pessaries/obat solid/cincin estrogen  pada organ reproduksi, . Langkah ini mampu memperbaiki kesehatan flora organ reproduksi, mengembalikan tingkat keasamannya, sekaligus mengurangi risiko infeksi. Jika kadar estrogen kembali menurun di kemudian hari, Anda mungkin memerlukan konsumsi oral hormon estrogen dan progresteron (hormon seks) secara bersamaan.

Meski begitu, terapi ini bukannya tanpa efek samping. Oleh karena itu, percayakan diri Anda kepada dokter. Anda pun bisa mencegah infeksi dengan sejumlah kebiasaan sederhana. Misalnya, gunakan pakaian dalam dari bahan katun yang nyaman, supaya kulit bisa bernapas. Hindari penggunaan sabun atau pembersih kewanitaan, sebab produk-produk demikian bisa mencuci bakteri baik dari organ reproduksi. Kurangi pula penggunaan jins dan celana ketat, mengingat keduanya menjaga suhu hangat dan lembap pada organ reproduksi yang baik bagi pertumbuhan parasit.