tentang-cystitis-header

Ada apa dengan saya?

Ada perempuan yang seringkali terserang infeksi saluran kemih yang dikenal juga dengan cystitis selama hidupnya, dan ada pula mereka yang tidak pernah terinfeksi. Anda mungkin heran, mengapa Anda bisa menjadi salah satu penderitanya? Sebagian perempuan bisa jadi terlahir dengan “faktor pencegah” (baik secara sistem imun, maupun anatomi tubuh) yang melindunginya dari infeksi organ kemih, atau tanpa sadar melaksanakan sejumlah kebiasaan yang akhirnya mencegah mereka dari penyakit ini. Meski begitu, infeksi saluran kemih(cystitis) jarang disebabkan oleh faktor anatomis, mengingat kelainan anatomi biasanya disadari pada masa kanak-kanak, bukan ketika dewasa.

Apapun penyebabnya, hampir semua kasus infeksi saluran kemih (cystitis) didorong oleh masalah fisiologis dan fungsi organ. Misalnya, bila “sesuatu” menghambat kandung kemih untuk dikosongkan secara optimal, bakteri bisa tertinggal di sana. Kandung kemih yang masih terisi itu menjadi lingkungan yang nyaman bagi bakteri untuk berkembang biak dan menginfeksi Anda. Maka, penting untuk memastikan apa “sesuatu” itu, untuk mengetahui seberapa besar potensi Anda mengalami infeksi saluran kemih (cystitis).

Faktor penyebab infeksi saluran kemih (cystitis)

Ada beragam alasan yang menyebabkan Anda terkena infeksi saluran kemih (cystitis). Beberapa di antaranya mungkin Anda dengar berdasarkan “kata orang” yang tersebar dari mulut ke mulut. Ada yang bilang akibat duduk di atas permukaan yang dingin, terlalu banyak berhubungan intim, atau justru karena hampir tidak pernah.

Sebagian alasan tersebut ada benarnya. Ketika berhubungan intim, bakteri memang seringkali masuk ke saluran kemih.  Hal ini normal, alami dan tidak perlu dikhawatirkan. Karena uretra berada persis dekat organ reproduksi, bakteri di area perineum (area  antara organ reproduksi dan dubur/bagian belakang tubuh) mudah tercampur dengan lendir organ reproduksi saat foreplay. Ketika berhubungan intim, bakteri bisa masuk ke kandung kemih. Namun, semua itu merupakan hal yang alami dan normal. Pasangan Anda tidak menularkan penyakit, sebab bakteri bukan berasal darinya. Keinginan berhubungan intim yang rendah justru bisa membuat Anda lebih rentan mengalami infeksi saluran kemih (cystitis), sebab organ reproduksi menjadi kering dan enggan mengeluarkan lendir yang mestinya mampu melindungi Anda dari infeksi.

Infeksi saluran kemih (cystitis) bukan soal bakteri yang masuk ke kandung kemih, tetapi ketika bakteri tidak bisa keluar dari sana. Ia berkaitan dengan masalah fisiologis maupun fungsi tubuh. Bakteri bisa terjebak dalam kandung kemih lewat berbagai cara. Pertama, jika sesuatu menghambat kencing untuk keluar dengan arus normal. Kedua, masalah neurologis, misalnya kerusakan saraf yang mengganggu fungsi kandung kemih. Dalam kasus seperti demikian, urin pun tersisa di kandung kemih dan mendorong tumbuhnya bakteri, sehingga menjadikan Anda rentan terhadap infeksi.

Di samping keadaan tersebut, diabetes, obesitas, kehamilan, kondisi pascamenopause, gangguan pada sistem pencernaan yakni sindrom iritasi usus (Irritable Bowel Syndrome; IBS), dan stres, juga mengundang risiko infeksi saluran kemih (cystitis).

Lendir di sekitar organ reproduksi dan uretra bersifat agak asam guna mencegah perkembangbiakan bakteri. Sayangnya, pada perempuan yang melewati masa menopause, tingkat keasaman organ reproduksi berkurang seiring berkurangnya produksi hormon seks (terutama estrogen) yang berfungsi mengasamkan pH organ reproduksi. Inilah mengapa perempuan menopause mudah terkena infeksi saluran kemih (cystitis).

Risiko infeksi saluran kemih (cystitis) berulang semakin besar pada penderita diabetes yang mendapat asupan insulin setiap hari. Penelitian menyebutkan bahwa keadaan diabetes dan obesitas meningkatkan potensi terjadinya infeksi saluran kemih (cystitis).

Selain itu, perempuan yang tengah hamil memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami infeksi saluran kemih (ISK) termasuk cystitis daripada perempuan lainnya. Infeksi saluran kemih berulang mampu mengundang masalah serius pada ibu maupun anak, seperti kelahiran prematur dan rendahnya berat badan bayi saat dilahirkan.

Sedangkan perubahan bakteri flora usus yang umum ditemukan pada penderita gangguan sistem pencernaan (irritable bowel syndrome; IBS) dan konstipasi, bisa memicu pertumbuhan bakteri buruk penyebab infeksi saluran kemih, termasuk cystitis. Pada penderita IBS, respons imun tubuh  yang abnormal  mengakibatkan pertumbuhan bakteri buruk tersebut.

Penelitian juga menunjukkan bahwa kondisi stres meningkatkan risiko infeksi saluran kemih, akibat tingginya  kadar hormon stres (katekolamin) yang memicu perkembangbiakan bakteri penyebab infeksi saluran kemih (cystitis), termasuk bakteri Escherichia coli.